2 metode penilaian sebelum merger dan akuisi perusahaan, beserta dampaknya

metode penilaian sebelum merger dan akuisisi

Merger dan akuisisi kalau pakai istilah singkat M&A adalah salah satu usaha perusahaan untuk dapat berkembang dan menata portofolio perusahaan tersebut

Apabila perkembangan dari dalam perusahaan tidak dapat terealisasi, atau tidak ada lagi pilihan pertumbuhan secara organik, maka M & A adalah jalan yang harus ditempuh agar perusahaan dapat berkembang

Tekanan dari pihak luar terutama dari pemegang saham, investor, atau analis yang menginginkan perusahaan untuk berkembang hingga terkadang dua digit angka pertumbuhan adalah sangat sulit untuk direalisasikan

Hal ini membuat manajemen mencari cara lain agar perusahaan terus berkembang yaitu menyasar pertumbuhan inorganik dengan melakukan kegiatan M&A.

Melalui merger pihak pengakuisisi akan berhadapan dengan situasi bagaimana cara pemberlakuan dari aset yang baru diakuisisi ini agar menunjang kinerja perusahaan.

Beberapa pertanyaan akan menjadi pertimbangan seperti apakah aset akan diintegrasikan dan dimiliki selamanya atau dijual dikemudian hari

atau apakah dengan membeli aset maka perusahaan harus menjual atau menutup aset perusahaan lainnya.

pada satu sisi perusahaan akan mempertahankan aset yang dapat beroperasi  seefisien mungkin dan menutup atau menjual aset lainnya terutama yang kurang produktif

dilain pihak terdapat juga perusahaan yang mengakuisisi beberapa aset baru dan mempertahankan karena memang ingin merajai sepanjang rantai industri tersebut.

Ada riset yang membuktikan bahwa 70% upaya merger dan akuisisi gagal

penyebabnya:

  1. Salah valuasi
  2. kekalahan negosiasi
  3. kesalahan menetapkan target akuisisi
  4. dan yang paling dominan, kesalahan mengintegrasikan bisnis yang diakuisisi.

karena seringnya gagal, maka cara ini kurang diminati, namun anda masih bisa membuat valuasi yang tepat, sehingga negosiasi anda berjalan mulus.

valuasi yang tepat ini tidak mudah, kalau anda tidak tahu caranya.

ada dua metode sederhana yang bisa digunakan, yang akan kita uraikan dibawah dan dampaknya yang akan terjadi pasca M&A.

dan untuk menambah motivasi, perlu juga kita sajikan informasi perusahaan yang sukses melakukan merger & akusisi.

menurut lembaga konsultan Bain and Company merger and acquisitions akan semakin marak di Indonesia, para Investor akan berbondong-bondong masuk kesini, untuk pembuktian bahwa mereka bisa menguasai pasar asia tenggara.

jadi Indonesia sebagai tolok ukur, hal ini populasi konsumen di indonesia adalah yang terbesar di asia tenggara, nah bagi Anda sebagai owner perusahaan dan menjadi market leader diindustrinya siap-siap menjadi target M&A para Investor.

untuk melengkapi tata cara M&A, kita akan uraikan tahapannya dibawah, tentu juga anda harus tahu cara menilai sebuah perusahaan pengambilalih atau pihak diambilalih.

Cara untuk mengakuisisi perusahaan

Siklus keputusan Merger dan Akuisisi

tidak semua transaksi merger dan ukuisisi berhasil dan berjalan mulus sesuai dengan apa yang diharapkan atau direncanakan.

banyak atau bahkan mayoritas dari transaksi ini mengalami kegagalan.

Memang apabila berhasil dilakukan akan melipatgandakan nilai perusahaan.

Pada awalnya manajemen melakukan keputusan untuk melakukan suatu transaksi M&A disebabkan adanya tekanan dari pemegang saham, investor, karyawan atau analis ingin melihat perusahaan berkembang.

target pertumbuhan yang terkadang tidak realistis mengakibatkan manajemen memusatkan perhatiannya pada kegiatan M&A.

apalagi apabila perkembangan dari bisnis yang dilakukan saat ini telah mencapai tahap maturity. cerita akan kesuksesan M&A yang didapat dari media maupun seminar.

Cara mengakuisisi Perusahaan

ada beberapa cara

Pada merger…

direksi kedua perusahaan harus setuju untuk menggabungkan perusahaan mereka.

Selanjutnya mereka akan meminta persetujuan dari para pemegang saham kedua perusahaan untuk penggabungan kedua perusahaan tersebut.

Ada bayangan gak?

Pada umumnya apabila mayoritas pemegang saham (minimum 51%) sudah setuju, baik dari pihak pengakuisi maupun perusahaan yang menjadi target maka transaksi tersebut bisa dilanjutkan.

Terkadang juga ada beberapa perusahaan, karena keputusan besar, yang menetapkan aturan tentang Super Majority, dimana keputusan hanya dapat disetujui kalau sudah diaminkan lebih dari 80% pemegang saham.

Pemegang saham walaupun sudah memiliki mayoritas misalnya 73% kepemilikan tidak dapat memaksa transaksi tersebut untuk diproses apabila ada pemegang saham yang menolak atau abstain

sehingga syarat Super Majority tersebut tidak dapat dipenuhi.

Setelah transaksi terjadi perusahaan yang menjadi target akan melebur bersama perusahaan yang mengakuisisinya.

Nah, coba cara lainnya

Yaitu melalui Management Buyout dan Leveraged BuyOut

Cara ini perusahaan diakuisisi oleh suatu group Investor melalui lelang. transaksi ini model Management Buyout bilamana dalam transaksi yang dilakukan para manajer menjadi bagian dari transaksi

sedangkan

model Laveraged Buyouts apabila hasil lelangnya digunakan untuk menutupi hutang yang  dimiliki oleh perusahaan yang menjadi target akuisisi.

Cara atau model ini biasa digunakan atau terjadi pada perusahaan publik yang kepemilikan sahamnya masih dimiliki oleh publik kemudian sahamnya dibeli semuanya dan perusahaan berubah menjadi perusahaan tertutup.

Efek atau dampaknya

tentu ada dampaknya bilamana kedua perusahaan melakukan M&A

beberapa studi yang pernah dilakukan menceritakan bahwa kegiatan aksi merger or akuisisi ini bisa meningkatkan inovasi baik secara langsung maupun tidak langsung.

dampaknya secara langsung misalnya penggabungan kedua perusahaan bisa saling melengkapi dari semua kekurangan dan menyatukan kekuatan dan keunggulan kedua perusahaan atau lebih untuk membangun suatu teknologi atau produk yang unggul yang mana sebelumnya tidak bisa dilaksanakan oleh salah satu perusahaan tersebut.

Contoh sukses dari Merger ini adalah: Bank Bappindo dan BBDN bergabung sehingga menjadi satu kekuatan baru yang cukup disegani saat ini, anda pasti sudah kenal yang namanya Bank Mandiri, Bank dengan asset terbesar saat ini.

sedangkan dampak lain dari aksi ini adalah:

menaikkan anggaran penelitian dan R&D (riset and development) dalam skala ekonomi yang lebih besar

itu kalau anda mempunyai dana yang besar untuk alokasi R&D maka M&A ini bisa berjalan baik.

perlu ditegaskan, tidak semua M&A itu bisa menghasilkan inovasi, karena alasan post M&A itu bukanlah persoalan yang mudah.

malah ada yang pasca M&A langsung turun drastis kinerja perusahaan tersebut dan pada akhirnya dapat berpisah kembali.

ini bisa terjadi karena proses M&A yang menyita waktu yang lama dan mengikutkan banyak pegawai sehingga perhatian manajemen menjadi tidak fokus dan proyek-proyek yang mengembangkan inovasi menjadi hilang.

Pendekatan evaluasi hasil M&A

biasanya sebelum merger ada penilaian

Ada dua pendekatan untuk mengevaluasi merger dan dampaknya pada profitbilitas suatu perusahaan

Pendekatan pertama dengan cara mengevaluasi harga saham dan pendekatan kedua adalah dengan metode akuntansi.

sedangkan untuk pendekatan evaluasi harga saham dipakai metode event study.

metode event study maksudnya, kita mengamati perkembangan harga saham sebelum (“ex ante”) pengumuman tentang rencana merger kedua atau lebih perusahaan tersebut dilaksanakan.

sedangkan sebaliknya metode kinerja operasi yang berdasarkan akuntansi melihat kesuksesan atau kegagalan suatu M&A berdasarkan kinerja perusahaan setelah proses M&A tersebut selesai (“ex post”)

coba kita ulas sedikit apa itu metode event study.

metode ini menggunakan harga saham sebagai acuan untuk mengevaluasi ekspetasi dari para investor akan potensi keuntungan dari perusahaan yang akan dimerger.

metode event study mengambil asumsi bahwa pasar modal yang efisien dimana segala informasi tersedia untuk khalayak publik.

asumsi ini diambil dari teori Efficient Market Hypothesis (“EMH”) yang dikembangkan oleh pemenang nobel ekonomi tahun 2013 Professor Eugene Fama dari Universitas Chicago.

teori ini menyatakan bahwa seluruh informasi yang tersedia dipublik akan tercermin kedalam harga saham.

nah metode ini punya sedikit kelemahan, yakni ada kekhawatiran saat sebelum merger diumumkan kepada publik ada beberapa informasi yang bocor kepada beberapa investor.

maksudnya, jika harga saham sudah beranjak naik dan rencana merger belum diumumkan kepada publik, dengan metode event study ada beberapa informasi yang sudah bocor dan mengalir kepada beberapa investor.

sekarang kita lanjutkan pembahasan metode kinerja operasi, metode ini agak sedikit berbeda dengan metode event study.

metode ini melihat kinerja pasca merger, yang dievaluasi adalah perubahan kinerja dari perusahaan hasil merger.

metode ini berupaya mencari sumber potensi keuntungan yang diperoleh perusahaan hasil merger dan menganalisis apakah potensi keuntungan ini dapat direalisasikan setelah perusahaan merger.

kalau merger benar menghasilkan suatu nilai bagi perusahaan maka nilai tersebut sudah pasti muncul pada arus kas perusahaan.

dampak dari merger akan dibandingkan dengan perusahaan sebelum dan sesudah merger, nilai tersebut akan dibencmarck dengan nilai rata-rata industri.

hanya saja metode kinerja operasi ini mendapatkan banyak kritik karena salah satu alasannya karena metode ini tidak mampu melihat potensi keuntungan dimasa datang.

contohnya begini:

perusahaan tambang batu bara, apabila melihat tren harga batubara yang cenderung naik, maka tentu perusahaan ini tidak akan segera menjual  akan tetapi menyimpannya terlebih dahulu dan akan melepasnya kalau harga batubara sudah tinggi.

dengan metode kinerja operasi tentu tidak akan melihat potensi keuntungan yang besar pada saat perusahaan batubara ini berada dimasa periode menyimpan hasil tambang karena keuntungan yang dilihat hanya pada arus kas perusahaan yang kecil.

nah baru tahu…

jadi bagi anda yang mau melakukan Merger and Akuisisi bisa mempertimbangkan metode kinerja operasi ini.

masih ada lagi kelemahan metode kinerja operasi atau metode akuntasi ini.

ini berdasarkan hasil studi Sirower dan O’Byrne pada tahun 1998.

kita uraikan

Yang pertama

terlalu banyak rasio-rasio yang digunakan sehingga mempersulit untuk membandingkannya

yang kedua

menggunakan data akuntansi sebenarnya sama saja mengabaikan aspek penting ekonomi dari suatu proses akusisi,

yakni

janji secara implisit dari perusahaan pembeli kepada pemegang sahamnya akan kesuksesan akuisisi yang tercermin dalam harga premium yang ditawarkan kepada pemegang saham dari perusahaan terget.

dan..

data akuntansi tidak mengungkapkan nilai rate of return yang sebenarnya secara ekonomi karena depresiasi, dan secara akuntansi tidak menggambarkan turunnya market value dari investasi perusahaan dalam tahun berjalan.

kelemahan lain lagi dari metode akuntasi berdasarkan riset dari Fisher and McGowan pada 1983 menguraikan bahwa..

keuntungan yang dilaporkan oleh seorang akuntan bisa tidak konsisten dari suatu perusahaan ke perusahaan lain, atau dari industri ke industri lain

dan mungkin tidak mencerminkan definisi ekonomi dari keuntungan.

Data akuntansi dan asset bisa tidak mencerminkan kondisi ekonomis karena praktek akuntansi tidak menginjinkan kapitalisasi untuk beberapa aktivitas sepeti R&D dan juga tidak mengakomodir biaya inflasi.

ada lima sumber perbedaan antara data akuntansi dan economic market values

pertama asset tua dan depresiasinya sepanjang tahun

kedua nilai amortasi dari asset intangible

ketiga nilai inventory dan biaya produksi

keempat alokasi untuk biaya bersama dalam lini bisnis dan transfer intra perusahaan dari segala bisnis

kelima advertising dan R&D

penting bahwa data akuntansi juga tidak dapat menjawab dampak jangka panjang dari merger

contoh kelemahan analisis data akuntansi, perusahaan X yang bergerak dibidang pertambangan batubara yang menyimpan semua hasil tambangnya karena memprediksi tahun depan harga batubara akan naik, hal ini tidak bisa dilihat oleh analisis akuntansi.

So..

Data akuntansi hanya sebagai informasi awal saja bagi perusahaan yang akan bermerger dalam melakukan valuasi

memang saat aksi due diligence kedua perusahaan yang akan merger akan menyiapkan data hukum dan data akuntansi, kedua belah pihak akan melaksanakan open data room. biasanyan perusahaan akan melakukan valuasi dari data itu dan dijadikan nilai tawar dan nilai beli kedua belah pihak.

sedikit ada rujukan dari Eugene Fama yang mengatakan untuk mengukur harga saham berdasarkan pedekatan statistik

nah sebaiknya anda mengkombinasi untuk menilai sebuah perusahaan dengan menggunakan dua metode diatas.

metode event study disusul dengan metode akuntansi sehingga kelemahan satu metode bisa dilengkapi dengan metode lain…

kita tidak urai panjang mengenai metode ini, anda bisa mencarinya pada literatur lain.

Atau nanti kami uraikan pada bagian lain…

Dua metode diatas sederhana, bisa langsung diterapkan saat anda hendak mengakuisisi perusahaan lain.

baca juga: pihak-pihak yang terlibat dalam usaha leasing